Minggu, 29 Oktober 2028
Dua Doa di Bait Allah
Kalau kita bisa mendengar isi doa orang lain, mungkin kita akan terkejut. Ada doa yang sebenarnya bukan berbicara kepada Tuhan, melainkan memamerkan diri di hadapan Tuhan. Ada pula doa yang nyaris tak berkata apa-apa, hanya rintihan singkat, tetapi menembus langit. Yang membedakan bukan panjang kata, melainkan isi hati.
Yesus menaruh dua doa itu berdampingan supaya kita bisa membandingkannya. Dua orang naik ke Bait Allah untuk berdoa. Yang satu Farisi, yang lain pemungut cukai. Menurut ukuran zaman itu, jaraknya sejauh langit dan bumi: yang satu tokoh terhormat, yang lain pengkhianat bangsa yang dibenci.
Dengarkan doa si Farisi. Ya Allah, aku mengucap syukur karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan pezina, bukan seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberi sepersepuluh dari segala penghasilanku. Sekilas ia berterima kasih, tetapi seluruh doanya adalah daftar prestasi, dan tolok ukurnya adalah orang lain yang ia rendahkan. Ia tidak sungguh meminta apa-apa kepada Allah, sebab ia merasa sudah lengkap. Doanya penuh 'aku', dan Allah hanya menjadi cermin untuk mengagumi diri.
Dengarkan doa yang satunya. Pemungut cukai berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, hanya memukul dada dan berkata: ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini. Tujuh kata, tanpa daftar amal, tanpa membanding-bandingkan diri. Hanya pengakuan telanjang bahwa ia membutuhkan belas kasih.
Dan Yesus memberi keputusan yang membalik semua perhitungan: orang inilah, si pemungut cukai, yang pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah, bukan yang satu lagi. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.
Bacaan Sirakh sudah lama meneguhkannya: Tuhan adalah Hakim yang tidak memihak, tetapi doa orang yang terjepit didengarkan-Nya, dan doa orang miskin menembus awan. Bukan doa yang paling megah yang sampai, melainkan doa yang paling rendah hati.
Menariknya, bahkan Paulus, di ujung hidupnya, tidak berani berlagak seperti si Farisi. Ia memang berkata, aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah memelihara iman. Tetapi ia tidak menutupnya dengan menepuk dada, melainkan dengan menengadah kepada Tuhan, Hakim yang adil, yang akan menganugerahkan mahkota. Bahkan pencapaian sejati pun, di hadapan Allah, tetap diletakkan sebagai anugerah, bukan tagihan.
Maka baik kita periksa doa kita sendiri pekan ini. Ketika berdoa, sebenarnya kita sedang berbicara kepada Allah, atau sedang mengagumi diri di hadapan-Nya? Jangan-jangan doa yang paling jujur bukan daftar kebaikan kita, melainkan tujuh kata sederhana itu.
Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini. Jauhkanlah aku dari doa yang memamerkan diri, dan dekatkanlah aku pada doa yang merendah dan percaya. Amin.