Kamis, 26 Oktober 2028
Diukur tetapi Tak Terukur
Sebelum membeli lemari atau memasang gorden, orang mengeluarkan meteran. Panjang diukur, lebar dicatat, tinggi dihitung. Dunia benda memang bisa ditakar: sekian sentimeter, sekian meter. Ada rasa aman ketika sesuatu bisa diukur dengan pasti.
Paulus, dalam doanya yang indah bagi jemaat Efesus, seakan meminjam bahasa pengukur itu untuk hal yang justru tak bisa diukur. Ia berdoa supaya kita dapat memahami betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dan dalamnya kasih Kristus. Empat dimensi, seolah kasih itu sebuah ruang yang bisa dipetakan. Lebar, panjang, tinggi, dalam, seperti hendak diukur dari segala arah.
Tetapi di kalimat berikutnya Paulus membuka rahasianya: dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Di sinilah letak keajaibannya. Kasih Kristus adalah satu-satunya hal yang makin kita ukur, makin ketahuan tak terukur. Kita bentangkan meteran ke segala penjuru, dan tepi-tepinya tidak pernah ketemu. Makin dalam kita menyelam, makin dalam pula dasarnya menjauh.
Itu sebabnya iman tidak pernah tamat. Selalu ada ruang kasih yang belum kita jelajahi. Orang yang mengira sudah tahu segalanya tentang kasih Allah sebenarnya baru berdiri di pintu.
Dalam Injil, Yesus berkata Ia datang melemparkan api ke bumi. Kasih-Nya bukan sesuatu yang teduh dan aman; ia menyalakan, mengobarkan, mengubah. Api tidak bisa diukur dengan meteran.
Sudahkah kita berani terus mengukur kasih Kristus, dengan sadar bahwa tepinya tak akan pernah kita temukan?
Tuhan, benamkanlah aku makin dalam ke dalam kasih-Mu yang tak terukur, dan jangan biarkan aku merasa sudah cukup tahu. Amin.