Jumat, 27 Oktober 2028
Pandai Membaca Langit
Orang desa punya ilmu cuaca yang tak ada di buku. Melihat awan menghitam menggumpal di barat, mereka berkata hujan sebentar lagi turun, dan biasanya benar. Melihat semut berbaris naik ke tempat tinggi, mereka tahu langit sedang menyiapkan sesuatu. Tanda-tanda alam mereka baca dengan cermat, hasil pengalaman bertahun-tahun.
Yesus mengakui kepandaian itu, lalu memakainya untuk menegur. Apabila kamu melihat awan naik di barat, kata-Nya, segera kamu berkata akan turun hujan, dan memang begitu. Apabila angin selatan bertiup, kamu tahu hari akan panas. Kamu pandai menilai rupa bumi dan langit. Lalu datang tamparannya: mengapa kamu tidak dapat menilai zaman ini?
Rupanya ada dua macam kepekaan yang tidak selalu berjalan bersama. Kita bisa sangat tajam membaca tanda-tanda lahiriah, cuaca, tren, arah angin ekonomi, tetapi tumpul membaca tanda-tanda rohani. Allah sedang berbicara lewat peristiwa, lewat hati nurani yang gelisah, lewat undangan untuk bertobat, tetapi kita tidak menangkapnya. Mata cuaca kita tajam, mata iman kita rabun.
Yesus bahkan bertanya lebih tajam: mengapa engkau tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Kadang kita tahu apa yang benar, tetapi menunda memutuskannya, seperti orang yang melihat mendung tetapi enggan berteduh.
Paulus mengingatkan jemaat Efesus akan satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan. Membaca zaman dengan benar berarti membaca ke arah kesatuan itu.
Tanda apa yang akhir-akhir ini Tuhan kirim dalam hidup kita, yang sudah kita lihat tetapi belum kita baca?
Tuhan, berilah aku mata yang peka membaca tanda-tanda zaman, dan hati yang berani segera memutuskan yang benar. Amin.