Minggu, 15 Oktober 2028
Yang Sembilan Ke Mana?
Kata 'terima kasih' adalah salah satu ucapan pertama yang kita ajarkan kepada anak-anak. Anehnya, justru itu pula yang paling sering hilang saat kita dewasa. Kita cepat menuntut, lambat berterima kasih. Dan yang lebih halus: kita bersyukur dengan panjang lebar ketika susah, lalu diam-diam melupakan-Nya begitu keadaan membaik.
Injil hari ini menaruh jari tepat di luka itu. Sepuluh orang kusta berteriak minta belas kasih. Yesus menyuruh mereka pergi menunjukkan diri kepada imam, dan di tengah jalan mereka semua sembuh. Sepuluh-sepuluhnya. Tetapi hanya satu yang kembali, tersungkur, mengucap syukur. Dan Yesus bertanya, dengan nada yang nyaris getir: bukankah kesepuluh orang tadi menjadi tahir? Di manakah yang sembilan?
Yang sembilan itu bukan orang jahat. Mereka hanya sibuk. Sembuh sudah, mereka bergegas menata hidup yang baru, mengejar hal-hal yang tertunda bertahun-tahun. Rasa syukur kalah cepat oleh kesibukan. Begitulah biasanya syukur menguap: bukan karena kita membencinya, melainkan karena kita segera beralih ke urusan berikutnya.
Ada satu detail yang tajam. Satu-satunya yang kembali adalah orang Samaria, orang asing yang dipandang rendah. Bacaan pertama menceritakan hal serupa: Naaman, panglima dari negeri asing, sembuh dari kustanya lalu kembali kepada Elisa untuk bersyukur dan menyembah Allah Israel. Dua-duanya orang luar. Seakan Kitab Suci mau berbisik: kadang justru yang kita anggap paling tak layak yang paling tahu berterima kasih.
Kata 'syukur' dalam tradisi Gereja begitu penting sampai perayaan pusat kita, Ekaristi, namanya diambil dari kata Yunani eucharistia, yang artinya persis ucapan syukur. Setiap kali kita ke gereja, sesungguhnya kita sedang berlatih menjadi orang yang satu itu, yang kembali.
Paulus mengingatkan Timotius akan kesetiaan Allah yang tak bergantung pada balasan kita: jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. Allah tetap memberi, entah kita kembali atau tidak. Tetapi mereka yang kembali menemukan lebih daripada kesembuhan. Kepada orang Samaria itu Yesus berkata: imanmu telah menyelamatkan engkau. Yang sembilan mendapat kulit yang sehat; yang satu mendapat keselamatan.
Maka pertanyaan Yesus itu sebetulnya ditujukan kepada kita juga. Di manakah yang sembilan? Jangan-jangan, di banyak hari, kitalah yang sembilan itu: sudah menerima begitu banyak, lalu berlalu tanpa menoleh.
Tuhan, ampunilah aku yang cepat lupa berterima kasih. Jadikanlah aku yang satu itu, yang selalu kembali untuk bersyukur kepada-Mu. Amin.