‹ Semua renungan

Jumat, 13 Oktober 2028

Rumah yang Kosong

Rumah yang lama ditinggal kosong tidak pernah benar-benar tetap kosong. Meski disapu bersih, dikunci rapat, lama-lama ada saja yang mengisi: debu tebal, sarang laba-laba, tikus, kadang ular. Ruang kosong seperti punya hukum sendiri; kalau tidak dihuni yang baik, ia akan dihuni yang lain.

Yesus memakai gambaran itu untuk hal yang sangat penting. Ketika roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara mencari perhentian. Tidak menemukannya, ia kembali ke rumah asalnya. Didapatinya rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur, tetapi kosong. Maka ia mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat, dan keadaan orang itu menjadi lebih buruk dari semula.

Perhatikan kata kuncinya: bersih, rapi, tetapi kosong. Mengusir yang jahat saja ternyata tidak cukup. Berhenti dari kebiasaan buruk, memutus satu dosa, membersihkan diri, semua itu baik, tetapi belum selesai. Sebab ruang yang dikosongkan menuntut untuk diisi. Kalau tidak kita isi dengan yang baik, yang lama akan pulang membawa kawan.

Paulus mengingatkan jemaat Galatia bahwa hidup baru bukan sekadar melepaskan hukum lama, melainkan menerima Roh melalui iman. Bukan cuma berhenti dari yang salah, melainkan mulai dihuni oleh Kristus.

Sering pertobatan kita berhenti di tahap membersihkan: berpuasa dari yang buruk, tetapi lupa mengundang yang baik masuk. Kamar yang bersih tetapi kosong adalah kamar yang rawan.

Hari ini, ruang mana dalam hidup kita yang sudah kita bersihkan, tetapi belum kita isi dengan kehadiran Tuhan?

Tuhan, jangan biarkan hatiku sekadar bersih dan kosong; datanglah dan tinggallah di dalamnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →