Senin, 9 Oktober 2028
Alasan untuk Menyeberang
Melewati orang yang tergeletak di pinggir jalan hampir selalu punya pembenarannya. Sedang terburu-buru. Takut jangan-jangan itu jebakan. Merasa bukan urusan kita. Percaya nanti ada orang lain yang menolong. Alasan-alasan itu tidak jahat; justru karena masuk akal, ia mudah kita pakai.
Dalam perumpamaan yang terkenal ini, Yesus dengan sengaja memilih dua tokoh terhormat: seorang imam dan seorang Lewi. Keduanya bukan penjahat. Sebagai pelayan Bait Allah, mereka bahkan punya alasan yang saleh untuk tidak menyentuh orang yang mungkin sudah mati, sebab itu bisa membuat mereka najis dan tak layak bertugas. Mereka melewatinya dari seberang jalan dengan hati nurani yang, boleh jadi, tetap merasa bersih.
Lalu datang orang Samaria, yang justru dipandang rendah. Ia tidak menghitung untung rugi. Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, dan itulah kata kuncinya. Belas kasih yang menggerakkan mengalahkan semua alasan yang menghambat. Ia turun, membalut luka, menaikkan orang itu ke atas keledainya, membayar penginapan.
Yang menghalangi kita menolong sering bukan kejahatan, melainkan alasan yang terlalu rapi. Kepada ahli Taurat yang bertanya siapa sesamaku, Yesus membalikkan pertanyaannya: bukan siapa yang layak kutolong, melainkan kepada siapa aku mau menjadi sesama.
Hari ini, adakah seseorang yang kita lewati dari seberang jalan, lengkap dengan alasan yang kedengarannya benar?
Tuhan, gerakkanlah hatiku oleh belas kasih, sebelum akalku sempat menyusun alasan untuk berlalu. Amin.