‹ Semua renungan

Minggu, 8 Oktober 2028

Sebesar Biji Sesawi

Ada anggapan yang diam-diam kita percaya: kalau saja iman kita lebih banyak, hidup pasti lebih beres. Doa lebih dikabulkan, hati lebih tenang, cobaan lebih ringan. Maka permintaan para rasul terdengar sangat masuk akal: Tuhan, tambahkanlah iman kami.

Menariknya, Yesus tidak menuruti logika penambahan itu. Ia justru berkata: sekiranya kamu punya iman sebesar biji sesawi saja, kamu bisa menyuruh pohon ini tercabut dan tertanam di laut. Biji sesawi itu kecil sekali, nyaris tak kelihatan di telapak tangan. Yesus seperti berkata: soalnya bukan berapa banyak imanmu, melainkan kepada siapa iman itu berpaut. Iman sebutir pun, kalau berpaut pada Allah yang hidup, sudah berkuasa.

Lalu Ia melanjutkan dengan perumpamaan yang mengejutkan. Seorang hamba yang seharian membajak, pulang, dan masih harus melayani tuannya, tidak lantas merasa berjasa. Sesudah melakukan segala tugas, ia berkata: kami hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang wajib kami lakukan.

Dua ajaran ini ternyata satu napas. Iman bukan modal yang kita kumpulkan untuk menaruh Allah dalam utang budi kepada kita. Iman adalah kepercayaan seorang hamba yang tahu diri, yang melayani bukan supaya dibalas, melainkan karena mengenal Tuannya baik.

Habakuk hidup di zaman yang seolah membenarkan keraguan. Ia berteriak: berapa lama lagi, Tuhan, aku berseru tetapi tidak Kaudengar? Kelaliman ada di depan mata, keadilan seperti menghilang. Dan jawaban yang ia terima bukan penjelasan panjang, melainkan sebuah janji: penglihatan itu masih menanti saatnya, nantikanlah, ia pasti datang. Lalu satu kalimat yang menjadi tiang seluruh Kitab Suci: orang yang benar akan hidup oleh percayanya.

Percaya, di sini, berarti menanti tanpa memegang bukti di tangan. Persis seperti iman sebiji sesawi tadi: tampak tak seberapa, tetapi cukup untuk bertahan.

Paulus meneguhkan Timotius yang tampaknya sedang gentar: Allah tidak memberi kita roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Kobarkanlah karunia yang ada padamu. Iman yang kecil pun perlu dikobarkan, bukan diratapi karena merasa kurang besar.

Maka pekan ini barangkali kita berhenti berdoa 'Tuhan, tambahkanlah imanku' seolah menuntut jatah yang lebih banyak. Mungkin doa yang lebih jujur adalah: Tuhan, ajarilah aku memakai iman sebiji sesawi yang sudah Kauberikan, hari ini, di tempat aku berdiri.

Tuhan, aku tidak meminta iman yang besar, tetapi iman yang berpaut erat pada-Mu. Kobarkanlah yang kecil ini, dan jadikanlah aku hamba yang setia tanpa merasa berjasa. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →