Sabtu, 7 Oktober 2028
Dari Mendengar ke Memandang
Di tangan nenek-nenek, untaian rosario tampak seperti alat yang paling sederhana. Manik demi manik dihitung pelan dengan jari, sambil bibir berkomat-kamit doa yang sama, diulang puluhan kali. Orang yang tergesa mudah menganggapnya membosankan. Padahal kata rosario sendiri berasal dari rosarium, kebun mawar, sebuah karangan bunga. Setiap doa adalah satu kuntum yang dirangkai bagi Bunda.
Hari ini, di bulan Rosario, Gereja merayakan Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Dan bacaan dari Ayub memberi kunci yang tak terduga untuk memahaminya. Di ujung kisahnya Ayub berkata: dahulu hanya dari kata orang aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Di situlah gunanya doa yang diulang-ulang. Rosario tidak menambah informasi tentang Tuhan; kita sudah tahu ceritanya. Rosario memindahkan kita, pelan-pelan, dari sekadar mendengar tentang Yesus menjadi sungguh memandang-Nya, peristiwa demi peristiwa, bersama mata Maria yang menyimpan semuanya dalam hati.
Dalam Injil, Yesus bergembira dan berkata bahwa hal-hal ilahi disembunyikan dari orang bijak, tetapi dinyatakan kepada orang kecil. Doa yang berulang memang doanya orang kecil, yang tidak sibuk merasa pintar.
Mungkin doa kita sering kering karena kita ingin cepat pintar tentang Tuhan, dan enggan pelan-pelan memandang-Nya.
Tuhan, lewat doa yang sederhana dan berulang, bawalah aku dari mendengar tentang Engkau menuju memandang Engkau. Amin.