‹ Semua renungan

Kamis, 5 Oktober 2028

Aku Tahu Penebusku Hidup

Ada kalimat yang hanya bisa lahir dari dasar jurang. Diucapkan di puncak kebahagiaan, ia terdengar biasa. Diucapkan di tengah reruntuhan, ia menjadi cahaya.

Ayub sedang duduk di dasar jurang itu. Hartanya ludes, anak-anaknya mati, tubuhnya penuh borok, sahabat-sahabatnya berbalik menuduh. Ia sudah kehilangan hampir semua alasan untuk percaya. Justru dari situ keluar kalimat yang kemudian dinyanyikan berabad-abad: Tetapi aku tahu, Penebusku hidup, dan sesudah kulitku habis terkelupas, tanpa dagingku pun aku akan memandang Allah.

Ayub tidak berkata itu karena keadaannya membaik. Keadaannya justru sedang paling buruk. Imannya tidak bersandar pada apa yang ia rasakan, melainkan pada siapa yang ia kenal. Ia tidak melihat jalan keluar, tetapi ia tahu ada Penebus.

Dalam Injil, Yesus mengutus tujuh puluh murid seperti anak domba ke tengah serigala, tanpa bekal, tanpa pundi-pundi. Pengharapan mereka bukan pada perbekalan, melainkan pada Dia yang mengutus. Sama seperti Ayub, kekuatan mereka bukan pada tangan yang penuh, melainkan pada Tuhan yang hidup.

Iman kita sering ikut naik-turun mengikuti keadaan: kuat waktu lancar, goyah waktu susah. Ayub menunjukkan iman yang lain, yang berpegang justru ketika tangan sudah kosong.

Di bagian hidup yang mana kita masih menunggu keadaan membaik dulu, baru berani berkata: aku tahu Penebusku hidup?

Tuhan, ketika tanganku kosong dan hatiku gelap, tanamkanlah keyakinan ini: Engkau, Penebusku, tetap hidup. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →