‹ Semua renungan

Kamis, 28 September 2028

Mampir Ngombe

Matahari terbit, terbenam, lalu bergegas terbit lagi. Angin berputar-putar, sungai mengalir ke laut, dan laut tidak juga penuh. Pengkhotbah memandang alam yang berputar itu dan menghela napas: kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.

Kata aslinya dalam bahasa Ibrani adalah hevel: uap, embusan napas. Sesuatu yang sungguh ada, tampak sekejap, lalu lenyap tanpa bisa digenggam. Orang Jawa punya ungkapan senada: urip mung mampir ngombe, hidup hanyalah singgah untuk minum.

Terdengar muram? Justru sebaliknya, ini kabar yang membebaskan. Kalau segala yang di bawah matahari adalah uap, jangan gantungkan seluruh hati pada yang pasti menguap: harta, jabatan, nama besar. Semuanya boleh dinikmati; tidak satu pun layak disembah.

Herodes menjadi contoh orang yang salah pegangan. Kabar tentang para murid yang kemarin diutus rupanya sampai ke istananya, dan raja yang punya segalanya itu menjadi cemas. Ia ingin bertemu Yesus, bukan untuk percaya, melainkan karena penasaran yang gelisah. Kuasa sebesar itu ternyata tidak memberi hatinya tempat berpijak.

Yang tidak menguap hanya satu: Allah sendiri, dan hidup yang dijalani bersama-Nya. Pada apa kita menggantungkan hati selama ini: pada uap, atau pada Sang Pemberi napas?

Tuhan, selama aku singgah di dunia ini, jadilah Engkau satu-satunya peganganku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →