‹ Semua renungan

Minggu, 24 September 2028

Jarum Timbangan

Di pasar, kepercayaan bertumpu pada benda kecil: jarum timbangan. Pembeli tidak bisa membongkar isi karung; ia hanya menatap jarum itu dan percaya. Maka pedagang yang mengakali timbangan sesungguhnya tidak sedang mencuri beberapa ons barang. Ia sedang mencuri kepercayaan, dan menginjak orang yang tidak berdaya memeriksanya.

Amos, nabi peternak dari abad kedelapan sebelum Masehi, memotret pasar seperti itu dengan mata tajam. Para pedagang di zamannya rajin beribadah, tetapi sambil menggerutu: bilakah bulan baru berlalu, bilakah Sabat lewat, supaya kita boleh berjualan lagi, mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, membeli orang miskin karena sepasang kasut. Ibadah jalan terus, kecurangan juga. Dan TUHAN bersumpah tidak akan melupakan segala perbuatan mereka. Bagi Allah, urusan takaran di pasar ternyata urusan iman.

Injil hari ini menyodorkan tokoh yang mengejutkan: bendahara tidak jujur yang justru dipuji tuannya. Yang dipuji tentu bukan kecurangannya, melainkan kecerdikannya. Di ambang pemecatan ia berpikir cepat dan memakai uang untuk membangun persahabatan. Yesus lalu menyindir: anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Untuk perkara yang fana orang bisa begitu sigap; untuk perkara yang kekal kita sering lamban dan setengah hati.

Kesimpulan Yesus tidak bisa ditawar: kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Mamon tidak selalu tampak jahat; ia hanya minta duduk di kursi kemudi. Ia menjadi tuan ketika hitungan untung rugi mengalahkan hitungan benar salah, ketika manusia pelan-pelan berubah menjadi angka. Ujiannya pun harian dan sederhana: barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Timbangan yang jujur. Laporan yang benar. Janji yang ditepati.

Paulus menambahkan satu jalan lagi lewat suratnya kepada Timotius: naikkanlah doa untuk semua orang, juga untuk para pembesar, sebab Allah menghendaki semua orang diselamatkan. Masyarakat yang adil dibangun dari dua arah sekaligus: tangan yang jujur dan doa yang tidak putus.

Minggu lalu kita memandang Bapa yang berlari mencari yang hilang. Minggu ini kita ditanya soal arah pengabdian: uang menjadi alat kita mengasihi orang, atau orang menjadi alat kita mengejar uang? Ke mana jarum timbangan hati kita menunjuk?

Tuhan, jadikanlah aku setia dalam perkara-perkara kecil, jujur dalam takaran, dan merdeka dari mamon, supaya hanya Engkau tuanku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →