Sabtu, 23 September 2028
Nasib Sebutir Benih
Tidak ada petani yang menangisi benih yang ia jatuhkan ke tanah. Padahal, kalau dipikir, benih itu hilang: terkubur, pecah, membusuk. Tetapi justru lewat jalan itulah ia menjadi tanaman. Benih yang disayang-sayang di dalam toples tidak akan pernah menjadi apa-apa.
Dua bacaan hari ini bertemu pada gambar yang sama. Paulus menjawab pertanyaan tentang kebangkitan dengan logika sawah: apa yang engkau taburkan tidak akan tumbuh dan hidup kalau tidak mati dahulu. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Sementara itu, kepada orang banyak yang kemarin kita dengar berbondong-bondong menyertai perjalanan-Nya, Yesus bercerita tentang penabur yang benihnya jatuh di empat macam tempat: pinggir jalan, tanah berbatu, semak duri, dan tanah yang baik.
Benihnya satu dan sama; tanahnya yang menentukan. Firman yang kita dengar itu juga satu dan sama, tetapi ada yang menguap sebelum siang, ada yang layu ketika diuji, ada yang terhimpit kekuatiran dan kenikmatan hidup, dan ada yang berbuah dalam ketekunan.
Hari ini Gereja mengenang Padre Pio, biarawan yang puluhan tahun setia melayani di kamar pengakuan sambil menanggung derita di tubuhnya. Tanah yang baik memang jarang kelihatan dramatis; ia hanya tekun.
Pekan ini, benih firman yang jatuh pada kita mendarat di tanah yang mana?
Tuhan, gemburkanlah hatiku, supaya benih-Mu tumbuh dan berbuah dalam ketekunan. Amin.