Senin, 25 September 2028
Besok Akan Kuberi
Kata paling ampuh untuk menunda kebaikan pendek saja: besok. Besok saya jenguk. Besok saya kembalikan. Besok saya minta maaf. Dan besok, seperti kita semua tahu, adalah hari yang tidak pernah benar-benar tiba.
Amsal menohok kebiasaan itu dengan telak: janganlah engkau berkata kepada sesamamu, pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi, sedangkan yang diminta ada padamu. Ayat sebelumnya lebih dalam lagi: janganlah menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Perhatikan pilihan katanya: yang berhak. Di mata Kitab Suci, kebaikan yang kita tunda bukan sekadar tertunda; ia sedang ditahan dari pemiliknya yang sah.
Yesus memakai gambar lain untuk desakan yang sama: tidak ada orang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menaruhnya di bawah tempat tidur. Pelita dinyalakan untuk menerangi sekarang, bukan disimpan menunggu suasana yang lebih tepat. Terang yang ditunda-tunda sama saja dengan gelap.
Lagi pula, kebaikan yang tersedia hari ini belum tentu masih bisa diberikan besok. Orangnya keburu pergi, saatnya keburu lewat, hati kita keburu dingin.
Kebaikan apa yang sedang kita tahan dengan kata besok?
Tuhan, ajarilah aku memberi hari ini juga, selagi yang diminta ada padaku. Amin.