Minggu, 17 September 2028
Allah yang Kehilangan
Kehilangan barang kecil bisa membuat seisi rumah dibongkar. Cincin peninggalan ibu terselip entah di mana, dan mendadak lemari digeser, kasur diangkat, lantai disapu ulang. Orang lewat mungkin geleng-geleng: barang sekecil itu dicari sampai begitunya. Mereka tidak tahu bahwa yang diukur bukan harganya, melainkan betapa berharganya.
Lukas bab lima belas adalah bab tentang Allah yang seperti itu. Tiga cerita ditumpuk dalam satu napas: gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan domba demi mencari seekor yang sesat, perempuan yang menyalakan pelita dan menyapu rumah demi satu dirham, dan bapa yang rupanya setiap hari memandang jalan, sebab ketika anaknya masih jauh ia sudah melihatnya. Semua berujung pada kalimat yang sama: bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab yang hilang telah kutemukan.
Perumpamaan ini lahir bukan di ruang kuliah, melainkan dari sungutan. Orang Farisi kesal: Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Yesus tidak membantah tuduhan itu. Ia justru menjelaskan alasannya: karena memang begitulah Allah. Bukan hakim yang menunggu di kursi, melainkan pencari yang turun ke jalan.
Bacaan pertama memperlihatkan sisi lain dari kisah yang sama. Israel baru saja dituntun keluar dari Mesir, dan secepat itu pula menyembah anak lembu emas. Layak dibinasakan, kata logika. Tetapi Musa berdiri di tengah, mengingatkan Allah akan janji-Nya sendiri, dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya. Belas kasihan menang atas murka. Paulus, dalam suratnya kepada Timotius, menjadikan dirinya bukti hidup: dahulu penghujat, penganiaya, orang ganas, yang paling berdosa di antara semua; justru karena itu ia dikasihani, supaya seluruh kesabaran Kristus dipertontonkan dalam dirinya.
Tetapi kisah anak yang hilang menyimpan tokoh ketiga yang sering luput: si sulung. Ia tidak pernah pergi dari rumah, namun hatinya ternyata jauh. Bertahun-tahun aku melayani bapa, katanya, persis buruh yang menghitung upah. Ayahnya keluar juga untuk membujuknya, sama seperti ia berlari menyongsong si bungsu. Dan Lukas sengaja membiarkan cerita menggantung: kita tidak pernah tahu apakah si sulung akhirnya masuk ke pesta.
Menggantung, sebab akhir cerita itu memang milik kita. Minggu lalu kita diajak menghitung harga menjadi murid. Minggu ini kita diingatkan hal yang lebih dasar: sebelum kita mencari Allah, Allah sudah lebih dulu mencari kita. Tinggal satu pertanyaan: kita ini si bungsu yang memberanikan diri pulang, atau si sulung yang masih berdiri di luar pesta?
Bapa yang berlari menyongsong anak-Mu, temukanlah aku setiap kali aku tersesat, dan bawalah aku masuk ke dalam sukacita-Mu. Amin.