Kamis, 14 September 2028
Memandang Luka
Perawat mana pun tahu: luka yang terus ditutupi justru bisa membusuk. Perban harus dibuka, luka harus dilihat dan dibersihkan, meski perih. Kesembuhan dimulai dari keberanian memandang.
Di padang gurun, Israel yang dipagut ular diberi obat yang aneh. Bukan ramuan, bukan penawar bisa, melainkan perintah memandang: ular tembaga yang ditinggikan pada sebuah tiang. Mereka disuruh menatap rupa dari hal yang melukai mereka, dan setiap yang memandang tetap hidup.
Yesus memakai kisah tua itu untuk berbicara tentang diri-Nya: sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan. Pada pesta Salib Suci ini kita diajak memandang salib: alat hukuman paling hina yang diubah menjadi tanda kasih paling besar. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.
Salib tidak menyembunyikan luka dunia. Ia memperlihatkannya, lalu menyembuhkannya. Maka orang Kristen tidak diajak memalingkan muka dari penderitaan, entah milik sendiri entah milik sesama. Kita diajak memandangnya bersama Kristus, sebab justru di situ keselamatan bekerja.
Luka mana yang selama ini kita tutupi rapat-rapat dan tidak berani kita pandang?
Yesus yang ditinggikan di salib, sembuhkanlah aku lewat pandangan iman kepada-Mu. Amin.