Rabu, 30 Agustus 2028
Kapur Sebelum Hajatan
Menjelang hajatan, rumah dikapur. Tembok yang kusam dan retak disapu putih dalam sehari, dan seisi kampung memuji rumah itu bersih. Kapur memang murah dan cepat. Ia hanya tidak mengubah apa pun di balik tembok.
Kemarin Yesus menegur cawan yang dibersihkan hanya sebelah luarnya. Hari ini gambar-Nya lebih keras lagi: kuburan yang dilabur putih, tampak bersih di luar, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang-belulang. Kemunafikan adalah kapur rohani: rajin memoles yang tampak, malas membenahi yang tersembunyi.
Bacaan I menawarkan lawannya. Paulus tidak berkhotbah dari panggung yang jauh. Ia berjerih payah siang malam mencari nafkah sendiri supaya tidak menjadi beban siapa pun, lalu berkata sederhana: ikutilah teladan kami. Hidupnya boleh diperiksa sampai ke dalam-dalamnya. Itulah kebalikan dari labur putih: keaslian yang tidak takut dibuka.
Orang munafik itu lelah seumur hidup, sebab harus terus mengecat ulang dirinya. Orang yang jujur di hadapan Allah justru bebas: ia cukup menjadi orang yang sama di depan dan di belakang.
Bagian mana dari hidupku yang selama ini hanya kukapur?
Tuhan, bersihkanlah aku mulai dari dalam, supaya aku tidak lagi sibuk dengan polesan. Amin.