Rabu, 23 Agustus 2028
Iri pada Murah Hati
Upah harian buruh tani jelas hitungannya: sepakat di pagi hari, dibayar di sore hari. Yang membuat ribut dalam perumpamaan hari ini bukan hitungan itu, melainkan perbandingan. Pekerja pukul lima sore menerima sedinar, sama dengan yang berjemur sejak subuh. Maka protes pun pecah.
Perhatikan jawaban tuan itu: "Aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?" Tidak ada yang dikurangi dari siapa pun. Yang terluka bukan keadilan, melainkan rasa lebih layak. Lalu keluarlah pertanyaan yang menusuk itu: "Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?"
Kemarin kita mendengar yang terdahulu menjadi yang terakhir. Hari ini kalimat itu diberi wajah, dan sering kali wajah kita sendiri: cemberut melihat orang lain diberkati. Rezeki tetangga terasa mengurangi rezeki kita, padahal tidak sepeser pun berpindah.
Bacaan I menegur para gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri. Akar penyakitnya sama: hidup yang berpusat pada hitungan untung sendiri, sampai buta terhadap domba yang lemah di sekitarnya.
Sukacita punya musuh senyap bernama perbandingan. Berhentilah menoleh ke amplop orang lain, dan tiba-tiba sedinar kita terasa cukup kembali.
Tuhan, sembuhkanlah aku dari iri hati, dan ajarilah aku ikut bergembira atas kemurahan-Mu bagi orang lain. Amin.