Sabtu, 19 Agustus 2028
Bukan Kutukan Turunan
Di kampung, label bisa diwariskan seperti sawah. "Dia itu anaknya si pemabuk." "Keluarga itu memang keras kepala turun-temurun." Seorang anak belum berbuat apa-apa, tetapi sudah menggendong dosa yang bukan miliknya.
Israel punya pepatah serupa: ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu. Nasib anak dianggap tinggal meneruskan kesalahan orang tuanya. Lewat Yehezkiel, Allah membatalkan pepatah itu: "Kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi. Semua jiwa Aku punya! Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati."
Artinya, tidak ada nasib yang dikunci oleh silsilah. Setiap orang berdiri sendiri di hadapan Allah, dengan kebebasannya, dengan kesempatannya yang baru. Bahkan bagi yang sudah jatuh, pintu tetap terbuka: "Bertobatlah, supaya kamu hidup!"
Injil hari ini memperlihatkan wajah Allah yang sama. Setelah kemarin berbicara tentang perkawinan, hari ini Yesus memeluk anak-anak, buah perkawinan itu. Di mata para murid mereka belum berarti apa-apa; di mata Yesus, merekalah empunya Kerajaan Surga. Setiap anak adalah halaman baru, bukan sambungan catatan lama.
Jangan-jangan kita masih memenjarakan seseorang dengan sejarah keluarganya. Atau memenjarakan diri sendiri.
Tuhan, terima kasih karena di hadapan-Mu aku bukan salinan masa lalu. Baruilah hatiku hari ini. Amin.