‹ Semua renungan

Minggu, 20 Agustus 2028

Rukun yang Menipu

Dalam banyak keluarga ada kesepakatan tak tertulis: jangan bahas itu. Soal warisan, soal luka lama, soal kelakuan salah satu anggota. Semua tersenyum di meja makan, dan keadaan itu disebut rukun. Padahal yang terjadi hanyalah gencatan senjata yang dijaga dengan pura-pura.

Minggu lalu Yesus berbicara tentang hamba yang berjaga menanti tuannya. Hari ini, masih dalam rangkaian pengajaran yang sama, kalimat-Nya jatuh seperti petir ke tengah kerukunan semacam itu: "Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan." Aneh. Bukankah Ia Raja Damai? Bukankah para malaikat menyanyikan damai sejahtera pada malam kelahiran-Nya?

Yang ditolak Yesus bukan damai, melainkan damai palsu: kerukunan yang dibangun di atas kebohongan yang dipelihara bersama-sama. Kebenaran yang Ia bawa itu seperti api. Api memurnikan emas, tetapi lebih dulu membakar sampahnya. Maka dalam satu rumah, lima orang bisa terbelah: yang memilih kebenaran akan berbenturan dengan yang memilih kenyamanan.

Yeremia mengalaminya secara harfiah. Karena menyampaikan firman yang tidak enak didengar, ia dituduh melemahkan semangat prajurit dan diturunkan ke dalam perigi berlumpur. Menariknya, yang berani menolongnya bukan imam atau pejabat Yehuda, melainkan Ebed-Melekh, orang asing dari Etiopia. Kebenaran memang sering menemukan pembelanya di tempat yang tidak terduga.

Minggu lalu kita juga mendengar kisah iman Abraham dan para leluhur. Surat Ibrani hari ini menyebut mereka banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, lalu berbicara seperti pelatih lari: tanggalkan semua beban, berlombalah dengan tekun, arahkan mata kepada Yesus yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib. Kemudian menyusul kalimat yang menohok: "Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah." Kita sering menyerah jauh sebelum itu. Baru disindir sedikit di kumpulan keluarga saja, kita sudah mundur dari kebenaran.

Mengikuti Yesus tidak selalu membuat hidup tenang. Kadang justru membuat kita harus bicara ketika semua orang memilih diam, atau berdiri sendirian di pihak yang benar. Tetapi hanya lewat api itulah lahir damai yang asli: damai yang tidak perlu dijaga dengan pura-pura.

Adakah "jangan bahas itu" dalam hidup kita yang sebenarnya sedang menunggu keberanian?

Tuhan Yesus, nyalakanlah api-Mu dalam diriku. Berilah aku keberanian memilih kebenaran, dan kesabaran menanggung akibatnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →