‹ Semua renungan

Kamis, 17 Agustus 2028

Remisi

Setiap 17 Agustus ada satu kabar yang paling ditunggu di tempat yang jarang kita pikirkan: penjara. Hari kemerdekaan adalah hari remisi. Ribuan warga binaan menerima pengurangan masa hukuman, sebagian bahkan langsung pulang. Bagi kita tanggal ini berarti upacara dan lomba panjat pinang. Bagi mereka, pintu yang terbuka.

Kata remisi menyimpan kejutan. Ia berasal dari bahasa Latin remissio: pelepasan, penghapusan. Kata yang sama sudah berabad-abad diucapkan Gereja dalam syahadat: remissio peccatorum, pengampunan dosa. Negara meminjam kosakata iman. Atau lebih tepat, keduanya menimba dari sumur yang sama: kemerdekaan sejati selalu berkaitan dengan penghapusan.

Injil yang kita dengar hari ini persis berbicara tentang remisi. Seorang hamba berutang sepuluh ribu talenta, jumlah yang mustahil dilunasi buruh mana pun seumur hidupnya. Raja menghapusnya. Bukan mencicilkan. Menghapus. Tetapi hamba yang baru bebas itu keluar, mencekik kawannya yang berutang seratus dinar, uang receh dibanding utangnya tadi, lalu menjebloskannya ke penjara. Maka sang raja mengembalikan dia ke penjara yang sama.

Perumpamaan itu menelanjangi kita. Orang bisa menerima remisi dan tetap hidup sebagai sipir bagi sesamanya. Bisa merdeka di atas kertas, tetapi terpenjara oleh dendam, oleh catatan kesalahan orang yang kita simpan rapi bertahun-tahun. Petrus bertanya, sampai tujuh kali? Yesus menjawab, tujuh puluh kali tujuh kali. Artinya: berhentilah menghitung. Selama masih menghitung, kita masih memegang kunci sel orang lain. Dan anehnya, tangan yang menggenggam kunci sel tidak pernah bisa bebas.

Delapan puluh tiga tahun bangsa ini merdeka. Para pendiri bangsa menebusnya dengan darah dan pembuangan; Yehezkiel dalam Bacaan I tahu benar rasanya memanggul barang buangan di pundak, menjadi lambang bagi bangsanya. Tetapi kemerdekaan yang mereka wariskan baru setengah jalan kalau anak-anaknya masih saling memenjarakan: dengan sakit hati, dengan curiga antargolongan, dengan luka lama yang diwariskan turun-temurun seperti pusaka.

Maka merayakan 17 Agustus secara kristiani bisa sangat sederhana sekaligus sangat berat: memberi remisi. Menghapus, bukan sekadar mengurangi, hukuman yang selama ini kita jatuhkan kepada seseorang. Sebab kita sendiri hidup dari penghapusan yang jauh lebih besar.

Siapa yang hari ini akan kita biarkan pulang dari penjara hati kita?

Tuhan, Engkau telah menghapus utangku yang tak terbayar. Merdekakanlah aku dari dendam, dan jadikanlah bangsa kami rumah yang saling mengampuni. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →