Minggu, 13 Agustus 2028
Yang Sudah Sampai
Setiap perantau menyimpan dua alamat. Satu tertulis di kartu penduduk, tempat ia bekerja dan mengontrak. Satu lagi tertanam di hati: kampung halaman, yang membuatnya rela berdesak-desakan di jalur mudik. Orang bisa puluhan tahun tinggal di kota dan tetap memakai kata "pulang" hanya untuk satu arah.
Surat Ibrani hari ini melukiskan Abraham dan para leluhur iman persis seperti itu. Mereka mengakui diri sebagai orang asing dan pendatang di bumi, dan merindukan tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air surgawi. Iman, kata surat itu, adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Seperti perantau yang yakin kampungnya ada, meski bertahun-tahun tidak melihatnya.
Hari ini kita merayakan Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Apa hubungannya dengan kerinduan perantau? Semuanya. Gereja percaya bahwa Maria, selesai peziarahan hidupnya di dunia, diangkat dengan jiwa dan raganya ke kemuliaan surgawi. Artinya, alamat yang kita rindukan itu bukan dongeng. Sudah ada satu dari antara kita, manusia biasa, perempuan dari kampung kecil Nazaret, yang benar-benar sampai.
Maria sampai bukan karena kebetulan. Injil hari ini memberi kuncinya: "Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Sejak berkata jadilah padaku menurut perkataan-Mu, Maria menaruh seluruh hartanya pada Allah. Ia juga hamba yang berjaga itu: pinggang tetap berikat, pelita tetap menyala, setia menanti Tuannya dari palungan Betlehem sampai kaki salib.
Perayaan ini bukan sekadar membuat kita mendongak kagum. Ia mengubah cara kita menggenggam. Orang yang tahu alamat pulangnya tidak akan membangun terlalu permanen di tanah kontrakan. Ia bekerja sungguh-sungguh, mencintai sungguh-sungguh, tetapi tidak panik menimbun. Sebab pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua sedang ia isi di tempat lain: lewat sedekah, kesetiaan, dan pengampunan yang diberikan diam-diam.
Jangan takut, hai kamu kawanan kecil. Begitu sapaan Yesus hari ini. Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Dan Maria, yang sudah sampai lebih dulu, kini menoleh kepada kita yang masih berjalan.
Bunda Maria, engkau telah tiba di tanah air yang kami rindukan. Doakanlah kami para perantau ini, agar setia berjaga sampai tiba di rumah Bapa. Amin.