Rabu, 9 Agustus 2028
Ibu yang Tidak Pulang
Di loket rumah sakit, ada satu golongan yang tidak bisa diusir: ibu yang anaknya sakit. Ditolak antrean, ia menunggu. Dibilang penuh, ia berdiri di lorong. Rasa malu sudah lama ia tanggalkan, sebab yang dipertaruhkan bukan dirinya sendiri.
Perempuan Kanaan dalam Injil hari ini adalah ibu semacam itu. Ia berteriak, didiamkan. Ia mendekat, dikatakan bukan sasaran perutusan. Bahkan mendengar kata yang keras tentang roti anak-anak dan anjing, ia tidak tersinggung lalu pulang. Ia menjawab dengan cerdas dan rendah hati: anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya. Yesus takjub: "Hai ibu, besar imanmu."
Iman yang besar dalam kisah ini bukan iman yang fasih berteologi, melainkan iman yang tidak menyerah ketika Allah seakan-akan diam.
Bacaan I membuka apa yang tersembunyi di balik diam itu. Sesudah janji pemulihan yang kita dengar kemarin, hari ini Allah menyatakan alasannya: "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal." Diam-Nya bukan penolakan, melainkan ruang yang membuat iman bertumbuh sampai penuh.
Mungkin doa kita sedang berada di lorong tunggu. Jangan pulang dulu.
Tuhan, ajarilah aku bertekun seperti ibu itu: tetap percaya bahkan ketika Engkau diam. Amin.