Selasa, 8 Agustus 2028
Arah Pandang
Anak yang baru belajar naik sepeda punya satu musuh: matanya sendiri. Begitu ia menunduk menatap roda, setangnya oleng. Begitu ia memandang jauh ke depan, jalannya lurus. Keseimbangan ternyata soal arah pandang.
Kemarin kita mendengar lima roti mengenyangkan lima ribu orang. Malam harinya, para murid berjuang melawan gelombang, dan Yesus datang kepada mereka berjalan di atas air. Petrus minta ikut, lalu sungguh-sungguh melangkah di atas air. Ia baru mulai tenggelam ketika "dirasanya tiupan angin". Selama matanya tertuju pada Yesus, ia berjalan. Begitu matanya pindah kepada badai, ia turun.
Anginnya tidak berubah. Yang berubah arah pandangnya.
Kita pun begitu. Masalah yang sama bisa terasa tertanggungkan atau menenggelamkan, tergantung ke mana mata hati menatap. Menatap badai terus-menerus membuat kita karam bahkan sebelum basah.
Santo Dominikus, yang kita kenang hari ini, mengarungi zaman yang kacau dengan satu pegangan: terus memandang dan mewartakan Sang Sabda. Dan seperti kepada Petrus, tangan Yesus selalu lebih cepat daripada tenggelamnya kita. Injil mencatat: "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya."
Tuhan, bila angin hidupku terasa kencang, tariklah pandanganku kembali kepada-Mu. Amin.