Minggu, 6 Agustus 2028
Bekal Turun Gunung
Orang mendaki gunung demi matahari terbit. Berangkat dini hari, menggigil, terengah-engah di tanjakan terakhir. Lalu di puncak, cahaya pertama menyentuh wajah, dan semua lelah terasa lunas. Pada saat itu muncul keinginan yang sama pada hampir setiap pendaki: andai bisa tinggal di sini.
Petrus mengalaminya di gunung yang lain. Ketika Yesus berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Musa dan Elia hadir. Petrus spontan berkata: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah." Lukas menambahkan catatan yang halus tetapi tegas: Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya.
Kemah artinya menetap. Petrus ingin membekukan saat mulia itu, menjadikannya alamat tetap. Tetapi awan datang menaungi, dan dari dalamnya terdengar satu perintah saja: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia." Bukan "dirikanlah". Bukan "tinggallah". Dengarkanlah. Sesudah itu mereka turun gunung.
Ada satu hal lagi yang mudah terlewat. Musa dan Elia berbicara dengan Yesus bukan tentang kemuliaan, melainkan tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi di Yerusalem. Di puncak yang paling terang itu, yang dibicarakan justru salib. Kemuliaan dan penderitaan ternyata satu jalur, bukan dua gunung yang berbeda.
Petrus tua akhirnya memahami semuanya. Dalam suratnya ia menyebut peristiwa itu sebagai jaminan bahwa imannya bukan dongeng: "Kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya." Lalu ia memberi nasihat yang indah: perhatikanlah firman itu seperti pelita yang bercahaya di tempat yang gelap, sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit di dalam hatimu. Pengalaman puncak tidak dibangun menjadi kemah. Ia dibawa turun menjadi pelita.
Kita pun punya saat-saat gunung. Retret yang menggetarkan, doa yang terasa dijawab, perayaan yang membuat mata basah. Godaannya sama dengan godaan Petrus: ingin tinggal di sana, lalu kecewa ketika hari Senin datang dengan segala kebisingannya. Padahal saat terang itu diberikan bukan untuk ditinggali, melainkan untuk menerangi lembah: rumah yang riuh, pekerjaan yang menumpuk, orang-orang yang menguji kesabaran.
Pertanyaannya sederhana. Dari pengalaman iman yang paling terang dalam hidup kita, apa yang masih menyala hari ini?
Tuhan Yesus, terima kasih atas saat-saat puncak yang pernah Kauberikan. Jadikanlah cahayanya pelita bagi hari-hariku yang biasa, sampai fajar-Mu menyingsing. Amin.