Kamis, 3 Agustus 2028
Tanah Liat yang Masih Basah
Di rumah perajin gerabah, kegagalan bukan kata akhir. Bejana yang penyok di atas pelarikan tidak dibuang. Tanah liatnya dikepal lagi, dibasahi, lalu dibentuk ulang menjadi bejana yang lain. Syaratnya satu: tanahnya masih basah. Tanah yang telanjur dibakar tidak bisa diapa-apakan lagi.
Yeremia disuruh Tuhan pergi ke rumah tukang periuk hanya untuk menonton adegan itu. Lalu firman turun: "Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku."
Kabar baiknya: rusak tidak sama dengan gagal. Di tangan-Nya, bentuk yang penyok dikerjakan kembali menurut apa yang baik pada pemandangan-Nya. Bukan menurut rancangan awal kita, dan justru di situ letak harapannya.
Kabar yang menantang: kita harus tetap basah. Tetap lentur, tetap bisa dibentuk. Hati yang mengeras itu seperti tembikar yang sudah dibakar. Bentuknya terkunci, retaknya menetap.
Kemarin kita mendengar orang menjual segalanya demi mutiara. Hari ini kita diminta menyerahkan sesuatu yang lebih sulit lagi: hak menentukan bentuk akhir hidup kita sendiri.
Tuhan, aku tanah liat di tangan-Mu. Jagalah aku tetap lembut, jangan biarkan hatiku mengeras sebelum Engkau selesai. Amin.