Rabu, 2 Agustus 2028
Dijual karena Gembira
Ada dua alasan orang menjual seluruh isi rumahnya. Pertama, karena terdesak utang. Kedua, karena hendak pindah ke rumah yang jauh lebih baik. Wajahnya berbeda. Yang satu murung menghitung kerugian, yang satu berseri-seri sambil mengangkut kardus.
Kemarin kita mendengar lalang dibiarkan tumbuh sampai panen. Hari ini deretan perumpamaan berlanjut: harta terpendam dan mutiara. Perhatikan satu keterangan kecil yang mudah terlewat: "oleh sebab sukacitanya" ia pergi menjual seluruh miliknya. Bukan karena terpaksa. Bukan karena takut hukuman. Karena gembira.
Yeremia dalam Bacaan I mengalami kegembiraan yang sama: "Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku." Iman yang sehat memang berangkat dari rasa nikmat itu, bukan dari daftar kewajiban.
Maka baiklah kita bertanya jujur. Apakah iman masih terasa seperti harta yang membuat kita rela melepas banyak hal? Atau sudah lama berubah menjadi tagihan bulanan yang kita bayar sambil mengeluh?
Orang yang menemukan harta tidak perlu disuruh berkorban. Ia berhitung pun sambil tersenyum.
Tuhan, kembalikanlah kepadaku sukacita pertama menemukan Engkau, supaya segala pengorbananku terasa ringan. Amin.