‹ Semua renungan

Minggu, 30 Juli 2028

Berani Menawar

Di pasar tradisional, tawar-menawar adalah seni. Pembeli menyebut harga rendah, penjual menaikkan, keduanya bertahan, mengalah sedikit, bertahan lagi. Yang menarik, tawar-menawar hanya mungkin di antara orang yang saling percaya cukup untuk berbicara terus terang. Kepada orang asing yang galak, kita diam saja. Kepada penjual langganan, kita berani menawar sampai lama.

Bacaan pertama menampilkan tawar-menawar yang paling berani dalam Kitab Suci. Abraham berdiri di hadapan Tuhan dan menawar demi Sodom. Bagaimana kalau ada lima puluh orang benar? Empat puluh lima? Empat puluh? Tiga puluh? Dua puluh? Sepuluh? Setiap kali ia merendah, "walaupun aku debu dan abu", tetapi ia tidak berhenti. Anehnya, Tuhan tidak marah. Ia meladeni setiap tawaran. Rupanya Allah tidak tersinggung oleh doa yang berani, asal lahir dari hati yang percaya pada kebaikan-Nya.

Dalam Injil, murid-murid meminta diajari berdoa. Yesus memberi Doa Bapa Kami, lalu sebuah cerita tentang orang yang mengetuk pintu sahabatnya tengah malam meminta roti. Ia terus mengetuk sampai pintu dibuka. Kata Yesus, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan."

Doa yang diajarkan Yesus bukan doa yang malu-malu, yang sekali meminta lalu menyerah. Ia doa yang gigih, seperti Abraham yang menawar dan orang yang mengetuk sampai larut. Bukan karena Allah perlu dipaksa, melainkan karena kegigihan itu memurnikan dan memperdalam kepercayaan kita.

Dan dasar keberanian itu diberikan Paulus. Dalam baptisan, surat hutang yang mendakwa kita sudah ditiadakan, dipakukan pada salib. Kita menghadap Allah bukan sebagai terdakwa yang gemetar, melainkan sebagai anak yang hutangnya sudah lunas. Anak yang tahu dirinya dikasihi berani meminta banyak.

Ada yang perlu diluruskan tentang doa yang gigih. Kita tidak mengetuk terus untuk mengubah pikiran Allah, seakan Ia enggan dan harus dibujuk. Kita mengetuk terus supaya hati kita sendiri berubah. Semakin lama kita berdoa untuk sesuatu, semakin jernih kita melihat apa yang sungguh kita minta, dan apakah itu layak diminta. Abraham yang menawar demi Sodom akhirnya bukan mengubah Allah, melainkan makin mengenal betapa panjang sabar Allah. Doa yang gigih memurnikan si pendoa lebih daripada mengubah Dia yang didoakan.

Doa mana yang sudah kutinggalkan karena kukira tidak dijawab, padahal mungkin Tuhan sedang menunggu aku terus mengetuk?

Bapa, ajarilah aku berdoa dengan berani dan gigih, seperti anak yang percaya penuh pada kebaikan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →