‹ Semua renungan

Sabtu, 29 Juli 2028

Rumah yang Sebenarnya

Sebuah gedung ibadat yang megah bisa menipu. Tembok yang kokoh, ukiran yang indah, nama Tuhan terpampang di depan. Orang mudah mengira, selama gedung ini berdiri, kita pasti aman. Padahal Tuhan tidak tinggal di batu dan kayu. Ia tinggal di tempat hidup diperbaiki dan kasih dijalankan.

Yeremia berdiri di pintu gerbang rumah Tuhan dan menegur keras: "Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN." Umat merasa aman hanya karena punya Bait Suci, sambil terus mencuri, membunuh, dan menindas orang asing, yatim, dan janda. Tuhan menagih yang lain: "Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini." Kehadiran Allah tidak dijamin oleh bangunan, melainkan oleh hati yang benar.

Hari ini kita mengenang Marta, Maria, dan Lazarus. Rumah mereka di Betania bukan bait yang megah, hanya rumah biasa. Tetapi di sanalah Yesus sungguh disambut: dilayani, didengarkan, ditangisi ketika Lazarus mati, lalu disaksikan membangkitkan yang mati. Rumah sederhana yang menyambut Tuhan dengan tulus lebih menjadi rumah Allah daripada bait termegah yang hanya dibanggakan.

Yesus mencari tempat tinggal bukan pertama-tama di antara tembok, melainkan di antara hati yang membuka pintu bagi-Nya.

Rumahku, hatiku, sungguh menyambut Tuhan dengan hidup yang diperbaiki, atau hanya membanggakan status sebagai orang beriman?

Tuhan, jadikanlah hatiku rumah yang sungguh menyambut-Mu, bukan sekadar bangunan yang menyandang nama-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →