Selasa, 25 Juli 2028
Retak, Tapi Tidak Pecah
Di dapur kampung sering ada kendi tua yang badannya sudah gompal di sana-sini. Bibirnya sumbing, warnanya kusam. Tetapi selama dasarnya tidak bocor, ia tetap dipakai. Air di dalamnya tetap sejuk, tetap menghilangkan haus. Retak di luar tidak membatalkan gunanya.
Paulus memakai gambar itu untuk hidup para rasul. "Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." Lalu ia merangkai empat kalimat yang layak dihafal: "Ditindas, namun tidak terjepit; habis akal, namun tidak putus asa; dianiaya, namun tidak ditinggalkan; dihempaskan, namun tidak binasa." Bejana itu retak, tetapi tidak pecah. Justru lewat retaknya, cahaya harta di dalamnya kelihatan.
Hari ini kita merayakan Santo Yakobus Rasul. Ibunya pernah meminta kursi kehormatan baginya, di kanan dan kiri Yesus. Tetapi Yesus menawarkan cawan, bukan kursi. Dan Yakobus sungguh meminumnya: ia rasul pertama yang mati dibunuh karena imannya. Ia menjadi bejana yang dihempaskan namun tidak binasa, sebab hartanya bukan dirinya sendiri, melainkan Kristus di dalamnya.
Kita sering malu pada keretakan kita: kelemahan, kegagalan, luka yang belum sembuh. Padahal justru di situ kekuatan Allah paling tampak. Bejana yang mengaku retak lebih jujur menunjukkan bahwa hartanya bukan buatan sendiri.
Keretakan mana yang kusembunyikan mati-matian, padahal lewat situ kasih Allah bisa bersinar keluar?
Tuhan, aku bejana tanah liat yang retak. Isilah aku dengan harta-Mu, dan biarlah kekuatan-Mu tampak justru pada kelemahanku. Amin.