‹ Semua renungan

Senin, 24 Juli 2028

Yang Datang dari Jauh

Kadang orang yang paling jauh justru yang paling cepat tanggap. Tamu dari kampung sebelah menegur kesalahan yang tidak berani ditegur keluarga sendiri. Orang baru di suatu tempat sering lebih peka pada hal yang sudah dianggap biasa oleh penghuni lama. Kedekatan bisa membuat kita mati rasa; jarak kadang membuat orang justru lebih awas.

Ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda kepada Yesus, padahal mereka sudah menyaksikan begitu banyak. Yesus menolak dan menunjuk dua sosok yang mengejutkan. Yang pertama, orang-orang Niniwe. Mereka bangsa asing, jauh dari Allah Israel, tetapi bertobat hanya karena mendengar khotbah Yunus. Yang kedua, ratu dari Selatan, yang datang dari ujung bumi hanya untuk mendengar hikmat Salomo.

Lalu Yesus berkata, pada hari penghakiman mereka akan bangkit dan menghukum angkatan ini. Orang-orang jauh yang tanggap menjadi cermin bagi orang-orang dekat yang keras hati. "Yang ada di sini lebih dari pada Yunus," kata-Nya, "lebih dari pada Salomo." Yesus lebih besar, tetapi justru dilewatkan oleh mereka yang paling dekat kepada-Nya.

Nabi Mikha sudah lama meringkas apa yang Tuhan mau: berlaku adil, mencintai kesetiaan, hidup rendah hati. Bukan tanda-tanda besar, melainkan hati yang tanggap.

Apakah kedekatanku dengan Gereja dan Kitab Suci malah membuatku mati rasa terhadap Tuhan yang hadir di depan mata?

Tuhan, jangan biarkan kebiasaan membuatku buta terhadap-Mu. Berilah aku hati yang tanggap seperti orang yang datang dari jauh. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →