Sabtu, 22 Juli 2028
Jangan Kaupegang Aku
Naluri pertama ketika bertemu kembali dengan orang yang kita kira hilang adalah memeluk erat-erat. Jangan pergi lagi. Kita ingin menahan, menggenggam, memastikan ia tidak lenyap untuk kedua kalinya. Kasih yang baru saja kehilangan cenderung mencengkeram.
Maria Magdalena persis begitu. Pagi buta ia sudah di kubur, mencari jenazah yang hilang, menangis. Ketika akhirnya Yesus menyapanya dan ia mengenali-Nya, hatinya pasti ingin memeluk dan tidak melepaskan. Tetapi Yesus berkata, "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa." Lalu segera menyusul perutusan: "Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka."
Aneh, bukan? Baru bertemu, sudah disuruh pergi. Tetapi di situlah letak kasih yang dewasa. Yesus tidak boleh disimpan sendiri di taman itu. Sukacita bertemu Dia bukan untuk digenggam, melainkan untuk dibagikan. Justru dengan melepaskan, Maria menerima tugas yang membuatnya dikenang: perempuan pertama yang mengabarkan kebangkitan, rasul bagi para rasul.
Kidung Agung yang dibacakan hari ini seakan menyuarakan isi hatinya: "Kupegang dan tak kulepaskan dia." Tetapi kasih kepada Kristus yang bangkit tidak berhenti pada genggaman. Ia mengalir keluar menjadi kabar.
Adakah perjumpaan dengan Tuhan yang selama ini kusimpan sendiri, padahal seharusnya kubagikan?
Tuhan yang bangkit, lepaskanlah tanganku dari keinginan menggenggam-Mu sendiri, dan utuslah aku membawa kabar-Mu. Amin.