‹ Semua renungan

Jumat, 21 Juli 2028

Bayang-Bayang yang Mundur

Waktu selalu berjalan satu arah. Bayangan di halaman bergerak dari pagi ke sore, tidak pernah kembali. Jam berdetak maju, tidak mundur. Itulah salah satu hal yang paling pasti dan paling tidak bisa kita tawar: waktu tidak bisa diputar ulang. Yang sudah lewat, lewatlah.

Maka tanda yang diberikan Tuhan kepada Hizkia sungguh mencengangkan. Raja itu sakit dan divonis mati, lalu ia berdoa sambil menangis. Allah mendengar, memperpanjang hidupnya lima belas tahun, dan sebagai tanda, "bayang-bayang pada penunjuk matahari akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak." Bayangan yang seharusnya maju, ditarik mundur. Waktu yang mustahil kembali, dikembalikan oleh tangan yang menciptakan waktu.

Hizkia diberi lima belas tahun tambahan. Tetapi bukankah setiap hari yang kita jalani juga tambahan yang tidak pernah kita ciptakan sendiri? Kita menerima waktu setiap pagi sebagai pemberian, bukan sebagai hak. Yang membuat Hizkia sadar hanyalah bahwa ia hampir kehilangannya.

Dalam Injil, Yesus menegur orang Farisi yang ribut soal murid memetik gandum pada hari Sabat. Mereka begitu sibuk menjaga aturan waktu, sampai lupa untuk apa waktu itu diberikan: bagi manusia, bagi belas kasihan. "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Andai hari ini adalah tambahan yang dikembalikan seperti kepada Hizkia, untuk apa akan kupakai?

Tuhan, setiap hariku adalah pemberian-Mu. Ajarilah aku memakainya untuk mengasihi, sebelum bayang-bayang itu habis. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →