‹ Semua renungan

Kamis, 20 Juli 2028

Melahirkan Angin

Ada lelah yang paling menyiksa: lelah yang tidak menghasilkan apa-apa. Bekerja seharian, tetapi tidak ada yang selesai. Mendorong sekuat tenaga, tetapi bebannya tidak bergerak. Capeknya sama, hasilnya nol. Justru kelelahan semacam itulah yang paling cepat mematahkan semangat.

Yesaya menemukan gambar yang tajam untuk itu. "Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin." Bayangkan seorang perempuan menanggung sakit bersalin sampai tuntas, mengerahkan seluruh tenaganya, lalu yang lahir ternyata angin. Tidak ada bayi, tidak ada apa-apa. Itulah potret usaha manusia yang bertumpu pada kekuatan sendiri: penuh keringat, hampa hasil. "Kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi."

Pengakuan yang jujur itu justru menjadi pintu. Sebab di ayat berikutnya Yesaya berpaling kepada Allah: "Orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula." Yang tidak bisa dihasilkan manusia dengan segala usahanya, dikerjakan Allah. Keselamatan bukan bayi yang kita lahirkan sendiri, melainkan hidup yang Ia berikan.

Maka undangan Yesus dalam Injil terdengar seperti embusan angin segar bagi yang letih: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Kelegaan itu tidak datang dari berhenti bekerja, melainkan dari berhenti bersandar pada tenaga sendiri.

Usaha mana dalam hidupku yang sebenarnya sedang melahirkan angin, karena aku menolak menyerahkannya kepada Tuhan?

Tuhan, aku lelah oleh usaha yang bertumpu pada diriku sendiri. Terimalah aku yang letih ini, dan berilah kelegaan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →