‹ Semua renungan

Kamis, 13 Juli 2028

Yang Membungkuk Menyuapi

Ada satu adegan yang mengharukan di setiap rumah yang punya anak kecil: orang tua membungkuk menyuapi. Badan yang jauh lebih besar itu merendah, mendekatkan sendok ke mulut yang mungil, sabar menunggu tiap suapan. Orang Jawa menyebutnya didulang. Tidak ada yang memaksa orang tua berbuat begitu. Kasih yang membuatnya rela membungkuk.

Begitulah Allah melukiskan diri-Nya lewat Hosea. "Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan." Allah yang mahabesar itu membungkuk. Ia meringankan beban di tengkuk umat-Nya, lalu menyuapi mereka seperti seorang bapa menyuapi anaknya.

Dan lihatlah, umat itu justru berulang kali berpaling. "Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka." Tetapi Allah tidak membalas dengan menegakkan punggung dan pergi. Dengarlah pergulatan hati-Nya: "Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku." Alasan yang hanya bisa diucapkan-Nya sendiri: "Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia." Manusia berhenti membungkuk ketika kecewa. Allah tidak.

Dalam Injil, Yesus mengutus murid-murid untuk membawa kabar Kerajaan dengan tangan terbuka. Mereka bisa memberi dengan murah hati karena mereka lebih dulu disuapi oleh kasih yang membungkuk itu.

Kapan terakhir kali aku sungguh merasakan Allah membungkuk menyuapiku, lalu bersyukur untuk itu?

Tuhan, Engkau membungkuk untuk memberiku makan padahal aku sering berpaling. Ajarilah aku tinggal dekat pada tangan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →