Rabu, 12 Juli 2028
Domba yang Hilang
Seorang gembala menghitung kawanannya setiap sore. Sembilan puluh sembilan aman di kandang, tetapi hatinya justru tertuju pada yang satu yang belum pulang. Bukan karena yang sembilan puluh sembilan tidak penting, melainkan karena yang hilang sedang dalam bahaya. Kasih selalu condong ke arah yang paling membutuhkan.
Ketika Yesus mengutus kedua belas murid, Ia memberi arah yang jelas: "Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Mereka tidak disuruh mencari yang gampang, yang sudah dekat, yang menyenangkan. Mereka diarahkan justru kepada yang tersesat, yang terlantar, yang paling jauh dari kandang.
Itulah tabiat perutusan Kerajaan. Ia tidak mencari yang aman, melainkan yang tercecer. Kabar gembira paling dibutuhkan bukan oleh orang yang sudah merasa cukup rohani, melainkan oleh mereka yang tersesat dan tahu dirinya tersesat.
Nabi Hosea menunjukkan bahaya bila kita salah arah. Israel disebut pohon anggur yang riap tumbuhnya, makin banyak buahnya makin banyak mezbah berhala yang dibuatnya. Pertumbuhan yang tidak diarahkan kepada Allah justru menjauhkan dari Allah. Ramai bukan jaminan benar.
Maka Hosea berseru, "sudah waktunya untuk mencari TUHAN." Mencari Tuhan, dan mencari mereka yang tersesat dari-Nya, sebenarnya satu gerak yang sama.
Siapa domba yang hilang di sekitarku, yang selama ini kuhindari karena terasa terlalu jauh untuk kudekati?
Tuhan, arahkanlah hatiku kepada yang tersesat, seperti hati-Mu selalu condong kepada yang hilang. Amin.