Selasa, 11 Juli 2028
Menabur Angin
Petani mana pun tahu, angin tidak bisa ditabur. Kau bisa menabur benih, jagung, padi, kacang. Tetapi angin? Ia lewat begitu saja, tidak meninggalkan apa-apa di tanah. Dan kalau ada yang nekat menabur angin, kata Hosea, yang dituainya bukan sekadar kosong, melainkan puting beliung. Angin kecil yang ditabur pulang sebagai badai.
Itulah gambaran Hosea tentang umat yang sibuk membuat berhala. "Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung." Mereka menumpuk mezbah, mencetak patung dari emas dan perak, mengira sedang menanam sesuatu yang kokoh. Padahal semua itu buatan tangan sendiri, hampa, tidak berakar. Hidup yang dibangun di atas yang hampa akan menuai kehampaan yang lebih besar.
Hari ini Gereja mengenang Santo Benediktus, yang hidup ketika dunia di sekitarnya seakan sedang menuai badai. Kekaisaran runtuh, tatanan berantakan. Di tengah itu ia tidak ikut menabur angin. Ia menyusun aturan hidup yang sederhana dan kokoh: berdoa dan bekerja, tinggal setia di satu tempat, mengutamakan Kristus di atas segalanya. Dari benih sekecil itu tumbuh biara-biara yang menjaga iman dan peradaban selama berabad-abad.
Dua cara hidup terbentang di depan kita. Menabur angin, menumpuk yang tampak megah tetapi hampa. Atau menabur benih yang benar, kecil tetapi berakar.
Hari ini aku sedang menanam apa: sesuatu yang berakar pada Allah, atau angin yang kelak pulang sebagai badai?
Tuhan, jauhkanlah aku dari menabur angin. Tanamkanlah hidupku pada-Mu, satu-satunya dasar yang tidak hampa. Amin.