Senin, 10 Juli 2028
Bukan Mati, Tidur
Ada kabar yang membuat seisi rumah runtuh: seorang anak meninggal. Tetangga datang, tangis pecah, peniup seruling dan orang banyak membuat suasana riuh oleh duka. Dalam saat seperti itu, kematian terasa sebagai kata terakhir. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan.
Kepala rumah ibadat itu menolak menerima kata terakhir tersebut. Anaknya baru saja meninggal, tetapi ia datang kepada Yesus: "Datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." Iman yang berani, di tengah rumah yang sudah dipenuhi tangisan.
Yang mengejutkan adalah kata Yesus setibanya di sana: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Orang banyak menertawakan Dia. Bagi mereka, itu jelas kematian. Bagi Yesus, itu tidur. Bukan karena Ia menyangkal beratnya kematian, melainkan karena bagi Dia kematian bukan lagi tujuan akhir, melainkan tidur yang darinya orang bisa dibangunkan.
Lalu Ia memegang tangan anak itu, dan bangkitlah ia. Sesederhana membangunkan orang yang tertidur.
Di tengah jalan menuju rumah itu, seorang perempuan yang dua belas tahun sakit menyentuh jubah-Nya dan sembuh. Yang menahun dan yang mendadak, yang sakit lama dan yang sudah mati, sama-sama tunduk pada sentuhan tangan-Nya.
Kematian mana yang kutakuti seolah ia kata terakhir, padahal bagi Yesus ia hanya tidur?
Tuhan, peganglah tanganku, dan bangunkanlah aku dari segala yang kukira sudah mati dalam hidupku. Amin.