Minggu, 9 Juli 2028
Berdua-dua
Perhatikan bagaimana orang menyuruh anak-anak pergi ke tempat jauh. Jarang seorang anak dilepas sendirian. Ia disuruh berdua dengan saudaranya atau temannya. Berdua, kalau yang satu jatuh, yang lain menolong. Kalau yang satu takut, yang lain menguatkan. Perjalanan yang sama terasa lain sekali kalau ada teman di sisi.
Yesus tahu itu. Ketika mengutus tujuh puluh murid, Ia tidak menyuruh mereka menyebar sendiri-sendiri. "Ia mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota." Tugasnya berat: seperti anak domba ke tengah serigala, tanpa pundi-pundi, tanpa bekal, tanpa kasut. Tetapi mereka tidak sendirian. Ada teman di samping, dan ada Tuhan yang mengutus di belakang.
Perhatikan juga isi tugasnya. Mereka disuruh membawa satu hal lebih dahulu ke setiap rumah: "Damai sejahtera bagi rumah ini." Sebelum menyembuhkan, sebelum berkhotbah, mereka menaburkan salam damai. Kerajaan Allah datang bukan dengan gertakan, melainkan dengan damai yang ditawarkan dari pintu ke pintu.
Ketika mereka kembali, mereka gembira karena setan pun takluk. Tetapi Yesus meluruskan sumber sukacita mereka: "Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Sukacita yang benar bukan pada apa yang berhasil kita lakukan, melainkan pada kenyataan bahwa kita dikenal dan dicatat oleh Allah.
Bacaan pertama melukiskan Allah yang mencatat itu dengan wajah seorang ibu. "Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu." Kita diutus ke tengah serigala, tetapi kita diutus oleh Allah yang menggendong dan membelai seperti ibu. Maka Paulus pun berani berkata bahwa satu-satunya kemegahannya adalah salib Kristus. Orang yang tahu namanya tertulis di sorga tidak perlu lagi mencari kemegahan di tempat lain.
Ada godaan halus dalam pelayanan: kita mulai menghitung keberhasilan sebagai milik sendiri. Setan takluk, orang sembuh, dan diam-diam dada membusung. Yesus memotong godaan itu sejak awal. Bukan karena hasil tidak penting, melainkan karena hasil bisa membuat kita lupa siapa yang mengutus. Yang aman dibanggakan hanya satu: bahwa kita dikasihi dan dicatat, bukan bahwa kita hebat.
Hidupku sering kuukur dari hasil dan pencapaian. Hari ini Yesus mengarahkan mataku ke tempat lain: namaku terdaftar di sorga. Sudahkah aku bersukacita karena hal itu, lebih dari karena keberhasilanku?
Tuhan, terima kasih karena namaku Kaucatat di sorga. Utuslah aku ke ladang-Mu dengan damai, dan biarlah sukacitaku berakar pada kasih-Mu, bukan pada hasil tanganku. Amin.