Sabtu, 8 Juli 2028
Selama Mempelai Masih Ada
Di sebuah pesta pernikahan, tidak ada yang datang untuk bersedih. Selama mempelai masih di pelaminan, musik dimainkan, makanan dihidangkan, tamu tertawa. Menangis di tengah pesta kawin terasa salah tempat. Ada waktu untuk berkabung, tetapi bukan sekarang, bukan selagi mempelai hadir.
Dengan gambar itu Yesus menjawab pertanyaan murid-murid Yohanes: mengapa murid-murid-Mu tidak berpuasa? "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?" Yesus tidak menghapus puasa. Ia hanya menaruhnya pada waktu yang tepat. Selama Ia hadir, saatnya bersukacita. Nanti, kata-Nya, mempelai itu akan diambil, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
Rupanya iman punya iramanya. Ada musim sukacita dan ada musim berpuasa. Yang keliru adalah mencampur keduanya secara asal: bersedih ketika seharusnya bersyukur, atau berpesta ketika seharusnya berkabung. Orang beriman belajar membaca musim.
Nabi Amos menutup kitabnya dengan janji musim sukacita yang besar. Pondok Daud yang roboh akan didirikan kembali, gunung-gunung akan meniriskan anggur baru, umat yang tercerai akan ditanam kembali di tanahnya. Setiap puasa yang benar sebenarnya sedang menantikan pesta seperti itu.
Hari ini aku sedang berada di musim yang mana, dan sudahkah aku menjalaninya dengan hati yang tepat?
Tuhan, ajarilah aku membaca musim hidupku, kapan bersukacita karena kehadiran-Mu, kapan berpuasa karena merindukan-Mu. Amin.