‹ Semua renungan

Selasa, 4 Juli 2028

Yang Tidur di Buritan

Nelayan tua bercerita, yang paling menakutkan di laut bukan besarnya ombak, melainkan wajah nakhoda. Selama nakhoda masih tenang, awak kapal ikut tenang. Begitu nakhoda panik, seluruh perahu kehilangan pegangan. Maka mata para awak sering tidak tertuju ke gelombang, melainkan ke wajah orang yang memegang kemudi.

Di danau itu, murid-murid lupa menatap wajah yang tepat. Angin ribut mengamuk, perahu ditimbus gelombang, dan mereka berteriak, "Tuhan, tolonglah, kita binasa." Sementara itu Yesus tidur. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena hati-Nya sungguh tenang. Orang yang tidak takut bisa tidur di tengah badai.

Yesus bangun, menghardik angin dan danau, lalu bertanya lebih dahulu sebelum menenangkan mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Rupanya badai di luar tidak sebahaya badai di dalam dada. Gelombang bisa diteduhkan dengan sepatah kata. Hati yang panik lebih sulit ditenangkan.

Nabi Amos hari ini bertanya, "Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut?" Ada takut yang benar, yaitu takut akan Allah. Dan justru takut yang benar itulah yang mengusir segala takut yang lain. Orang yang gentar kepada Tuhan tidak perlu gentar kepada gelombang.

Ketika hidupku terombang-ambing, mataku tertuju ke gelombang, atau ke wajah Dia yang memegang kemudi?

Tuhan, di tengah badaiku Engkau tampak tidur, padahal Engkau menguasai angin. Teduhkanlah dulu hatiku, baru gelombangku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →