‹ Semua renungan

Senin, 3 Juli 2028

Batu Penjuru

Tukang batu yang berpengalaman selalu memulai dari satu titik: batu sudut. Dari batu itulah seluruh dinding diukur. Kalau batu sudutnya miring sedikit saja, seluruh bangunan ikut miring. Tetapi kalau ia lurus dan kokoh, tembok-tembok yang lain tinggal menyesuaikan diri kepadanya. Satu batu menentukan tegaknya seisi rumah.

Surat Efesus hari ini memakai gambar itu untuk Gereja. Kita disebut anggota keluarga Allah, "yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru." Iman kita bukan bangunan yang berdiri sendiri-sendiri. Ia satu tembok besar, tersusun rapi, dan seluruhnya diluruskan oleh satu batu: Kristus.

Hari ini kita merayakan Santo Tomas, salah satu batu dalam dasar itu. Ia tidak mudah percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Tetapi lihatlah, Yesus tidak membuang batu yang keras ini. Ia datang khusus untuk Tomas, menawarkan tangan dan lambung-Nya. Dan dari mulut si peragu itu keluar pengakuan yang paling lurus dari semuanya: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

Rupanya ragu yang jujur, bila dibawa kepada Yesus, bisa berakhir sebagai iman yang kokoh. Tomas tidak berpura-pura percaya. Ia bergumul, lalu diluruskan oleh perjumpaan.

Adakah bagian imanku yang miring, yang perlu kuukur ulang pada Kristus, sang batu penjuru?

Tuhan Yesus, luruskanlah imanku kepada-Mu, sampai bersama Tomas aku berseru: ya Tuhanku dan Allahku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →