‹ Semua renungan

Minggu, 2 Juli 2028

Membajak Tanpa Menoleh

Petani yang membajak tahu satu aturan sederhana: matanya harus tertuju ke depan. Sekali menoleh ke belakang, garis bajakannya langsung berkelok. Tanah yang seharusnya lurus jadi bengkok, dan bengkoknya akan kelihatan sepanjang musim. Untuk membuat alur yang lurus, seorang pembajak memilih satu titik jauh di ujung sawah, lalu berjalan ke arah itu tanpa menoleh.

Dengan gambar itulah Yesus menutup Injil hari ini. "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Kalimat itu terdengar keras, apalagi diucapkan kepada orang yang hanya minta pamit dahulu kepada keluarganya. Bukankah wajar berpamitan? Tetapi Yesus sedang berbicara tentang arah hati, bukan sekadar sopan santun. Ada menoleh yang membuat langkah kita terus terseret ke masa lalu.

Bacaan pertama memperlihatkan cara berpisah yang tuntas. Elisa sedang membajak dengan dua belas pasang lembu ketika Elia melemparkan jubahnya. Ia memang minta mencium ayah dan ibunya dahulu. Tetapi sesudah itu ia menyembelih lembunya, membakar bajaknya sebagai kayu api, dan memasak dagingnya untuk orang banyak. Ia memutus jalan pulang. Tidak ada lagi lembu dan bajak untuk kembali. Perpisahannya tuntas justru supaya keberangkatannya tuntas.

Paulus menamai keberangkatan itu kemerdekaan. "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita." Tetapi ia segera memberi peringatan: kemerdekaan bukan alasan untuk hidup semau sendiri, melainkan kesempatan untuk saling melayani oleh kasih. Merdeka bukan berarti bebas dari segala ikatan. Merdeka berarti bebas untuk mengikatkan diri pada yang benar, tanpa terus ditarik oleh yang lama.

Di sinilah ketiganya bertemu. Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem dan tidak berbelok, walau tahu salib menunggu di sana. Elisa membakar bajaknya. Paulus melepaskan hukum lama demi Roh. Semuanya menuntut hal yang sama: mata ke depan, tangan di bajak.

Ada satu hal yang menghibur di sini. Yesus tidak menyuruh kita berjalan lurus dengan kekuatan sendiri. Ia berjalan lebih dulu ke Yerusalem, membuka alur yang paling sulit, yaitu salib itu sendiri. Kita tinggal mengikuti garis yang sudah Ia bajak. Maka membakar bajak yang lama bukan tindakan nekat orang yang sok berani, melainkan langkah orang yang percaya bahwa di depan ada Dia yang menanti.

Kita kadang mau mengikut Tuhan sambil tetap menggenggam tali ke belakang, berjaga-jaga kalau nanti menyesal. Padahal alur yang lurus hanya lahir dari hati yang berani memilih satu arah.

Ke belakang mana pandanganku masih sering menoleh, sampai alur hidupku berkelok-kelok?

Tuhan, arahkanlah pandanganku ke depan, kepada-Mu. Berilah aku keberanian membakar bajak yang menahanku, supaya alur hidupku lurus menuju Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →