Selasa, 27 Juni 2028
Surat yang Dibentangkan
Hampir setiap rumah punya amplop yang ditakuti. Surat tagihan, panggilan dari sekolah, hasil laboratorium. Ada orang yang menaruhnya di atas lemari berhari-hari, seolah masalahnya ikut tertunda selama amplop belum dibuka.
Raja Hizkia menerima surat semacam itu, tetapi jauh lebih mengerikan: ancaman dari Sanherib, raja Asyur yang sudah menumpas negeri demi negeri. Isinya sengaja meruntuhkan iman: janganlah Allahmu yang kaupercayai itu memperdayakan engkau. Yang dilakukan Hizkia layak kita tiru. Ia tidak membakar surat itu, tidak pula membalas dengan gertakan. Ia naik ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN, lalu berdoa.
Membentangkan. Kata itu indah sekali. Tidak diringkas, tidak dihaluskan, tidak disembunyikan sebagian. Seluruh isi yang menakutkan itu digelar terbuka di hadapan Allah. Dan Allah menjawab: Yerusalem selamat tanpa satu anak panah pun masuk.
Kita semua menyimpan amplop yang belum berani dibuka: diagnosa, hutang, keretakan keluarga. Jalan sesak menuju kehidupan, kata Yesus melanjutkan khotbah-Nya kemarin, mungkin dimulai dengan langkah sesederhana ini: membawa amplop itu ke hadapan Tuhan, dan membentangkannya.
Tuhan, inilah surat-surat yang kutakuti. Kubentangkan semuanya di hadapan-Mu. Amin.