Minggu, 25 Juni 2028
Menurut Kamu
Di warung kopi, semua orang fasih membicarakan orang lain. Kata orang, pejabat itu begini. Kata orang, tetangga itu begitu. Kata orang memang mata uang paling murah: tidak perlu kenal, tidak perlu bertanggung jawab.
Yesus memulai percakapan hari ini justru dengan mata uang murah itu: kata orang banyak, siapakah Aku ini? Para murid menjawab lancar. Yohanes Pembaptis, Elia, salah seorang nabi. Menjawab dengan kata orang memang gampang. Lalu Yesus mengganti pertanyaannya, dan suasananya pasti berubah: menurut kamu, siapakah Aku ini? Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan kutipan. Ia menuntut isi hati sendiri. Petrus menjawab: Mesias dari Allah.
Minggu lalu kita menyaksikan seorang perempuan menjawab pertanyaan itu bukan dengan kata-kata, melainkan dengan air mata dan minyak wangi di kaki Yesus. Iman memang tidak bisa selamanya menumpang jawaban orang lain: jawaban orang tua, jawaban guru agama, jawaban kebiasaan. Pada suatu titik, Yesus menoleh kepada kita satu per satu: menurut kamu?
Menarik bahwa segera sesudah pengakuan Petrus, Yesus berbicara tentang penderitaan: Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, dan dibangkitkan. Zakharia dalam bacaan pertama sudah melihatnya berabad-abad sebelumnya: mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam. Mesias yang benar dikenali bukan pada takhtanya, melainkan pada lukanya.
Maka mengakui Yesus tidak berhenti di bibir. Kata-Nya: setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari. Setiap hari, bukan sekali seumur hidup. Salib harian jarang kelihatan gagah: kesabaran terhadap orang serumah, kejujuran yang merugikan, pengampunan yang harus diperbarui tiap pagi. Tetapi Paulus menghibur kita dalam bacaan kedua: kamu semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Kita tidak pernah memikul salib dengan bahu sendirian.
Tuhan Yesus, hari ini Engkau bertanya kepadaku: menurut kamu, siapakah Aku? Berilah aku rahmat menjawab-Mu bukan hanya dengan bibir, melainkan dengan salib yang kupikul setiap hari. Amin.