‹ Semua renungan

Jumat, 16 Juni 2028

Angin Sepoi

Ketika listrik padam malam-malam, rumah mendadak sunyi. Dengung kulkas hilang, televisi bisu. Baru terdengar hal-hal yang selama ini kalah bersuara: jangkrik di halaman, napas anak yang tidur, detak jam dinding.

Elia yang kemarin berlari penuh kuasa mendahului kereta Ahab kini duduk hancur di gunung Horeb. Ancaman Izebel membuatnya lari ketakutan dan ingin mati. Lalu TUHAN lewat. Angin besar membelah gunung: TUHAN tidak ada di dalamnya. Gempa mengguncang: TUHAN tidak ada di dalamnya. Api menyala: TUHAN tidak ada di dalamnya juga. Sesudah semuanya, datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Di situlah Elia menyelubungi mukanya. Ia tahu, Allah sedang berbicara.

Kita sering mencari Allah dalam yang gempar: mukjizat besar, pengalaman rohani yang menggetarkan. Boleh saja. Tetapi lebih sering Allah memilih volume paling rendah: suara hati yang halus, ayat yang tiba-tiba mengena, damai yang datang sesudah doa yang biasa-biasa saja.

Masalahnya bukan Allah jarang berbicara. Masalahnya hidup kita jarang sepi. Kapan terakhir kita hening cukup lama untuk mendengar angin sepoi itu?

Tuhan, heningkanlah aku. Aku ingin mendengar bisik-Mu di antara riuhnya hariku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →