Kamis, 15 Juni 2028
Awan Sebesar Telapak Tangan
Pada puncak kemarau, orang desa memandang langit lebih sering daripada memandang jalan. Sore-sore mereka keluar rumah, menengadah, mencari awan. Langit tetap bersih membiru, dan justru itu kabar buruknya.
Kemarin kita menyaksikan api turun di Karmel. Hari ini giliran hujan yang dinantikan tiga tahun lamanya. Elia naik ke puncak gunung, membungkuk ke tanah, lalu menyuruh bujangnya melihat ke arah laut. Tidak ada apa-apa. Pergilah sekali lagi. Tujuh kali bolak-balik, dan pada kali ketujuh muncul laporan yang nyaris menggelikan: awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut. Sekecil itu. Tetapi bagi Elia itu cukup untuk berseru: pasang keretamu, hujan lebat akan datang. Dan langit pun menjadi kelam.
Pengharapan memang jarang datang segumpal langit penuh. Ia biasanya seawan telapak tangan: perubahan kecil pada anak yang didoakan bertahun-tahun, sapaan pertama sesudah lama berseteru, niat kecil untuk berdamai dahulu seperti diminta Yesus dalam Injil hari ini. Orang yang gagal menghargai tanda kecil akan menyerah pada kali ketiga. Elia menyuruh melihat sampai tujuh kali.
Kita sedang menunggu hujan apa? Jangan-jangan awannya sudah muncul, hanya saja masih kecil.
Tuhan, berilah aku ketekunan Elia: berdoa terus, dan melihat terus, sampai hujan-Mu turun. Amin.