‹ Semua renungan

Selasa, 13 Juni 2028

Segenggam Tepung

Ibu rumah tangga hafal isi tempayan berasnya. Tanpa menimbang pun ia tahu: sisa beras tinggal untuk dua kali masak. Pada titik segenting itu, permintaan berbagi terdengar seperti ancaman.

Kemarin kita melihat Elia diberi makan burung gagak. Hari ini kurirnya berganti: seorang janda miskin di Sarfat, yang tepungnya tinggal segenggam dan minyaknya tinggal setetes. Rencananya sederhana dan getir: memasak untuk terakhir kali, makan bersama anaknya, lalu menunggu mati. Justru kepada perempuan sekurus harapan itulah Elia berkata: buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti kecil.

Perempuan itu menurut. Dan matematika Allah mulai bekerja: tepung dalam tempayan tidak habis, minyak dalam buli-buli tidak berkurang. Orang Jawa punya ungkapan ana dina ana upa, ada hari ada nasi. Bukan ajakan bermalas-malasan, melainkan iman bahwa Allah setia setiap hari, terutama bagi orang yang berani berbagi dari kekurangannya.

Injil menyebut kita garam dunia. Garam berguna justru ketika larut dan tidak kelihatan lagi. Seperti tepung janda itu: menghidupi karena dibagikan, bukan karena disimpan.

Tuhan, ketika milikku tinggal segenggam, ajarilah aku tetap membuka tangan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →