Minggu, 11 Juni 2028
Wajah, Bukan Rumus
Di rumah duka, kata-kata cepat kehabisan tenaga. Orang yang melayat akhirnya hanya bisa duduk, menggenggam tangan, ikut diam. Kehadiran berbicara lebih panjang daripada kalimat.
Hari ini kita merayakan Tritunggal Mahakudus. Banyak orang gentar mendengarnya, seolah disodori soal matematika yang mustahil: bagaimana mungkin satu sama dengan tiga? Tetapi bacaan-bacaan hari ini sama sekali tidak menyodorkan rumus. Mereka menyodorkan wajah.
Bacaan pertama memperlihatkan seorang janda di Sarfat yang kehilangan anak satu-satunya. Elia berseru kepada TUHAN, dan nyawa anak itu dikembalikan ke dalam tubuhnya. Injil memperlihatkan janda yang lain di pintu gerbang kota Nain, berjalan di belakang usungan anak tunggalnya. Perhatikan baik-baik: janda itu tidak meminta apa-apa. Ia mungkin tidak tahu siapa Yesus. Tetapi ketika Tuhan melihatnya, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia berhenti, menyentuh usungan, dan menyerahkan anak yang hidup itu kepada ibunya.
Di situlah kita mengintip rahasia Tritunggal. Allah kita bukan pribadi kesepian yang duduk sendirian di ketinggian. Sejak kekal, Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah kebersamaan, kasih yang terus mengalir dan kembali. Maka ketika kasih itu turun ke bumi dan berpapasan dengan duka seorang ibu, ia tidak bisa lewat begitu saja. Allah yang dalam diri-Nya sendiri adalah relasi selalu tergerak melihat relasi yang koyak: ibu kehilangan anak, manusia kehilangan harapan.
Paulus dalam bacaan kedua mengalaminya secara pribadi. Ia, bekas penganiaya jemaat, dipilih sejak dalam kandungan dan dipanggil oleh kasih karunia. Tidak ada hitung-hitungan jasa di sana. Hanya kasih yang bergerak lebih dulu, jauh sebelum ia layak.
Maka pertanyaan hari raya ini bukan: sudahkah kita paham Tritunggal? Melainkan: percayakah kita bahwa Allah semacam inilah yang kita sembah? Allah yang melihat, tergerak, berhenti, dan menyentuh. Dan kalau kita diciptakan menurut gambar-Nya, hidup kita pun baru utuh bila mengalir dengan irama yang sama: melihat, tergerak, berhenti, menyentuh.
Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, tinggallah dalam diriku, supaya kasih yang mengalir dalam diri-Mu sejak kekal mengalir juga lewat tanganku. Amin.