Sabtu, 10 Juni 2028
Dua Peser
Dalam lomba lari kampung, tepuk tangan paling riuh kadang bukan untuk juara satu. Melainkan untuk pelari kecil yang tertatih-tatih masuk garis akhir paling belakang, tetapi tidak berhenti.
Bacaan hari ini mempertemukan dua orang yang tidak saling kenal. Paulus, yang suratnya kita ikuti sepanjang pekan ini, tiba di baris-baris terakhir hidupnya: aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, aku telah memelihara iman. Dan di Bait Allah, seorang janda miskin memasukkan dua peser, seluruh nafkahnya, ke dalam peti persembahan.
Yang satu rasul besar, yang lain perempuan tanpa nama. Tetapi Tuhan menilai keduanya dengan ukuran yang sama. Bukan berapa banyak yang dicapai atau disumbangkan, melainkan apakah semuanya diberikan. Orang kaya memberi dari kelimpahannya; janda itu memberi dari kekurangannya, kata Yesus. Paulus pun tidak menyisakan apa-apa: darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan.
Kita suka menghitung prestasi rohani: berapa kegiatan, berapa sumbangan. Tuhan rupanya menghitung yang lain: berapa yang masih kita genggam untuk diri sendiri.
Tuhan, ajarilah aku memberi seperti janda itu dan berlari seperti Paulus, sampai garis akhir, tanpa sisa. Amin.