‹ Semua renungan

Minggu, 21 Mei 2028

Diam Bersama Kita

Ada perbedaan besar antara tamu yang mampir sebentar dan tamu yang tinggal menetap. Yang mampir kita layani sebaik-baiknya, tetapi kita tahu ia akan pulang. Yang menetap ikut menata rumah, tahu isi dapur, hadir di pagi dan malam. Kehadiran yang menetap mengubah seisi rumah.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kehadiran jenis kedua. "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia." Perhatikan kata diam, menetap, tinggal. Allah tidak sekadar bertandang sesekali ke hidup kita. Ia mau pindah masuk, menjadikan hati manusia sebagai kediaman-Nya. Inilah kabar besar Hari Minggu Paskah VI: Allah yang jauh dan mahatinggi memilih tinggal di dalam orang yang mengasihi-Nya.

Bacaan kedua melukiskan ke mana semua ini bermuara. Yohanes melihat Yerusalem baru turun dari surga, gemerlap seperti permata. Tetapi ada yang ganjil: "Aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya." Kota sesuci itu justru tanpa rumah ibadat. Mengapa? "Sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya." Tidak perlu gedung khusus untuk menjumpai Allah, karena Allah sendiri memenuhi segalanya. Bahkan kota itu tidak butuh matahari, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.

Maka ada satu garis lurus yang indah. Kini, Allah datang diam di hati kita yang kecil dan sering berantakan. Kelak, kita yang diam bersama Dia di kota yang tak pernah gelap. Yang sekarang tinggal di dalam kita, kelak menjadi tempat kita tinggal selama-lamanya. Surga bukan tempat asing yang tiba-tiba kita masuki nanti. Ia kelanjutan dari kediaman yang sudah dimulai hari ini, ketika kita membiarkan Allah masuk. Orang yang sekarang membiasakan diri hidup bersama Tuhan sedang belajar bahasa rumah yang akan ia huni selama-lamanya.

Semua ini bukan untuk membuat kita gelisah menanti, tetapi tenang. Sebab Yesus menutupnya dengan, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." Rumah sudah pasti. Penghuninya sudah menunggu. Kita hanya perlu membiarkan-Nya masuk hari ini, dan menuruti firman-Nya dengan kasih.

Pertanyaannya sederhana: rumah hati kita, sudah kita siapkan untuk tamu yang mau menetap, atau masih kita perlakukan sebagai persinggahan sesaat?

Allah yang mahatinggi, sudilah tinggal di hatiku. Jadikanlah aku kediaman-Mu kini, dan bawalah aku ke kota terang-Mu kelak. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →